Kamis, 11 Februari 2010

Penggunaan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia (PTK)

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komputer telah berkembang dengan pesat dalam semua aspek kehidupan kita. Tidak terkecuali terhadap SD Negeri TEMPEL. Pembelajaran yang menggunakan media berbasis komputer merupakan terobosan yang baru di SDN Tempel yaitu dimulai tahun 2008 yang lalu. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer dan perangkat audio. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.
Dalam implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai keniscayaan perubahan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau telah menggunakan pendekatan pembelajaran yang baru tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komputer. Sementara itu beberapa guru yunior memang mau menerima inovasi tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran, meskipun media presentasi pembelajarannya bukan hasil karya sendiri melainkan membeli paket-paket yang sudah terjual bebas.
Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, beberapa guru menggunakan media presentasi pembelajaran dengan cara membeli dan menggunakannya secara langsung. Misalnya media pembelajaran pembacaan puisi, drama, atau film.
Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terdapat beberapa topik pembahasan pembelajaran menggunakan wacana rekaman televisi, Namun demikian penggunaan media pembelajaran yang berhubungan dengan topik ini mengalami kendala. Kendalanya antara lain :

a. Media pembelajaran yang berasal dari televisi khususnya berita belum pernah ada, dan belum pernah dibuat apalagi dijual bebas; padahal topik tersebut beberapa kali muncul dalam silabus KTSP 2006 bahasa Indonesia
b. Pembuatan media pembelajaran ini membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi, khususnya bidang software & hardware komputer, yaitu desain grafis, pembuatan animasi, editing gambar dan suara.
c. Pembuatan media pembelajaran harus memiliki langkah-langkah dan prosedur tertentu sehingga cukup layak dianggap sebagai media pembelajaran.
d. Bila disampaikan hanya dengan metode pemberian tugas, siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun televisi mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa, karena banyak stasiun televisi.
e. Siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut. Guru juga seringkali terlewatkan acara televisi tersebut. Pembahasan menjadi tidak efektif karena melebar dan seringkali antara guru dan siswa tidak memiliki referensi yang sama akibat selanjutnya memiliki pemahaman yang berbeda.
f. Penyampaian dengan metode ceramah, pembelajaran menjadi ’teacher centered’ siswa hanya medengarkan saja dan berakibat tidak menarik perhatian siswa dan membosankan.
g. Saat evaluasi performansi siswa, topik menjadi melebar karena pemahaman atas referensi yang berbeda. (Hasil observasi dan wawancara dengan siswa kelas V dan wawancara dengan guru-guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.)
Berbekal pengalaman pembuatan media pembelajaran itulah, peneliti merasa sangat perlu membuat media pembelajaran untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya topik rekaman televisi ini. Lebih lanjut, bila media pembelajaran ini dianggap memiliki kelayakan dapat disebarkan pada para guru bahasa Indonesia lain yang membutuhkannya. Demikian langka dan urgennya bagi pembelajaran, maka media pembelajaran ini segera harus dibuat.
Akhirnya, peneliti membuat Media Presentasi Pembelajaran “ Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal“ (untuk selanjutnya istilah ini disingkat MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal “). MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal “ ini memuat rekaman berita televisi yang berhubungan dengan berita ampuhnya pengobatan Ponari dengan batu ajaib yang diperolehnya setelah tersambar petir. Sengaja peneliti mengambil objek ini karena Ponari adalah siswa kelas III Sekolah Dasar yang merupakan anak sebaya.siswa.kelas.V. .
Problematikanya, apakah Media Presentasi Pembelajaran (MPP) “ Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal“ ini apakah dapat diterima oleh para siswa dan guru, dapatkah meningkatkan perhatian dan minat mereka dalam belajar, serta mampukah meningkatkan prestasi pembelajarannya.
Berdasarkan uraian di atas dirumuskan judul penelitian :“Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal“ untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Menyimak Siswa kelas V SD Negeri Tempel”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sbb :
1. Apakah Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal“ memiliki kelayakan sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas V SD Negeri Tempel?
2. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal“ dapat memotivasi belajar siswa kelas V SD Negeri Tempel?
3. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas V SD Negeri Tempel?

C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal“ dalam usaha untuk menilai kelayakannya sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas V SD Negeri Tempel.
2. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal“ dalam usaha untuk memotivasi siswa kelas V SD Negeri Tempel.
3. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “ dukun cilik Ponari sang fenomenal“ dalam usaha untuk dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas V SD Negeri Tempel.

D. Signifikansi Penelitian
Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat :
1. Bagi guru.
a. Untuk dapat mengembangkan profesionalitas guru dalam penerapan strategi pembelajaran yang efektif khususnya dalam pokok bahasan menyimak berita televisi
b. Sebagai latihan praktik langsung melakukan penelitian tindakan kelas
c. Sebagai sarana untuk menghasilkan karya tulis ilmiah.
2. Bagi Siswa
a. Untuk meningkatkan perhatian, aktivitas, dan prestasi pembelajaran
b. Agar pembelajaran menarik, menyenangkan, dan mudah dipahami
3. Bagi Pendidikan dan Pembelajaran
Untuk dapat menyempurnakan strategi pembelajaran sehingga semakin efektif penerapannya.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Media Pembelajaran
Belajar adalah suatu proses yang kompleks pada semua orang dan terjadi seumur hidup yaitu sejak masih bayi hingga mati. Tanda-tanda terjadinya pembelajaran bagi seseorang adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi lebih tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa baik dalam ranah kognitif,afektif,maupunpsikomotor.
Sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat masyarakat serta budaya berkembang pula tugas dan peranan guru sejalan dengan jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Mau tidak mau harus diakui guru bukanlah satu-satunya sumber belajar melainkan hanya salah satunya. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah, tutor, tokoh masyarakat, atau orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu di masyarakat juga dapat dijadikan sumber belajar.
Menurut Arief S. Sadiman (2006) sumber belajar dapat digolongkan dalam beberapajenis,yaitu: :
a. jenis orang (people)
b. pesan atau informasi (message)
c. jenis bahan (materials), ke dalam jenis ini sering disebut perangkat lunak (software) yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikan
dengan alat bantu atau tanpa alat bantu, misalnya : modul, majalah, OHP,
compact disk (CD) program atau data.
d. Alat (device) atau hardware yang menyajikan pesan, misalnya :projector film, video, TV, Komputer, dan lain-lain.
e. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan untuk menggunakan alat, bahan, atau orang dan lingkungan untuk menyajikan pesan, misalnya teknik demonstrasi, kuliah, ceramah, tanya-jawab, dan sejenisnya.
f. Lingkungan (setting), yaitu tempat yang memungkinkan siswa belajar. Misalnya: gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, museum, taman, kebun binatang, rumah sakit, pabrik, dan sejenisnya.

Sementara itu media teknologi mutakhir, terdiri dari :
a. Media berbasis telekomunikasi, misalnya : teleconfrence, kuliah jarak jauh, dsb.
b. Media berbasis mikroprosesor, misalnya : game komputer, hypermedia, CD / DVD, Computer Assisted Instructional, hypertxet, dsb.
Adapun menurut Gagne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa belajar. Sementara itu Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids) Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang tujuannya dapat memberikan pengalaman konkret, meningkatkan motivasi belajar, mempertinggi daya serap, dan retensi belajar siswa.
Dalam proses pembelajaran, kegunaan media pembelajaran adalah :
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis
(dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya :
a. objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realitas, gambar, film, ataumodel;
b. objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar;
c. gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau highspeedphotography.
d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat
rekaman film, video, foto, maupun secara verbal;
e. Objek-objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin) dapat disajikan dalam model, diagram, dan lain-lain;
f. Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan sebagainya.
3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk:
a. menimbulkan kegairahan belajar;
b. memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dengan kenyataan;
c. memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
4. Sifat unik tiap siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan kesulitan bila harus diatasi sendiri. Lebih sulit lagi bila latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu kemampuannya dalam :
a. memberikan perangsang yang sama;
b.mempersamakan pengalaman;
c. menimbulkan persepsi yang sama.

2.Media Presentasi Pembelajaran
Perkembangan teknologi informasi dan komputer juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Thomson (Elida dan Nugroho, 2003) komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antarteks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.
Sementara ini Bower dan Hilgard berpendapat bahwa komputer bermanfaat besar dibandingkan dengan teknologi pendidikan lainnya karena mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi pembelajar dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajar dalam waktu yang sama.
Selanjutnya, menurut Woolfolk ada 9 keuntungan menggunakan komputer dalam pembelajaran,yaitu :
a.siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya,
b. dapat melatih dengan sabar,
c. dapat dipakai untuk belajar sendiri,
d. dapat disajikan berbagai macam penginderaan,
e. dapat melakukan simulasi,
f. dapat dikembangkan pemecahan masalah,
g. dapat memberikan pujian untuk memperkuat perilaku,
h. dapat membantu manajemen kelas dan sekolah
Menurut Luther (Sutopo, 2003:32) ada 6 tahap dalam pengembangan media pembelajaran berbasis komputer, yaitu:
a. Tahap pertama konsep (concept), yaitu mengidentifikasikan tujuan, kebutuhan belajar, atau hal-hal lain yang perlu diungkapkan.
b. Tahap kedua analisis karakteristik siswa, yaitu disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.
c. Tahap ketiga merencanakan dan menyusun software. Dalam hal ini ada 3 ketrampilan yang harus dimiliki pengembang sofware yaitu menguasai bidang studi materi yang akan dibahas, menguasai prosedur pengembangan media, dan menguasai program komputer.
d. Tahap keempat desain (design), yaitu yaitu tahap merancang produk secara rinci agar memudahkan tahap-tahap pembuatan produk selanjutnya.
e. Tahap kelima pengumpulan bahan (material collecting), yaitu mengoleksi bahan-bahan pendukung untuk memperkaya isi produk media tersebut,
f. Tahap keenam pembuatan (assembly), yaitu menyusun naskah materi pada setiap frame sehingga menjadi sebuah produk media yang sudah jadi.
g. Tahap ketujuh uji coba (testing), yaitu melakukan uji coba produk yang akan digunakan secara luas karena itu perlu validasi kelayakannya.
Ada dua kriteria dalam ujicoba produk media pembelajaran, yaitu :
(1) kriteria pembelajaran, yang mencakup apakah sesuai dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, sesuai dengan materinya, dan sebagainya. Jika tidak perlu dilakukan revisi.
(2) Kriteria presentasi, yaitu apakah validasi terkait dengan tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi/komunikabilitas.
h. Tahap distribusi (distribution), yaitu tahap menyebarluaskan produk pembelajaran dan menjelaskan tujuan produk media pembelajaran tersebut.

3. Motivasi Belajar
Menurut Oemar Hamalik (2001, 27-28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri seorang siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.

Macam-macam motivasi
a. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah dorongan dalam diri seseorang yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 1988). Dilihat dari segi tujuan kegiatan belajar, motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam kegiatan belajar itu sendiri.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan juga mungkin komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
Prayitno (1989) menyatakan bahwa betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka belajar tidak akan berlangsung secara optimal. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi sangat berhubungan erat dengan bagaimana seseorang melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dengan demikian, makin banyak dan tepat motivasi belajar yang didapat siswa, maka aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa akan semakin tinggi sehingga pembelajaran siswa menjadi semakin berhasil.
Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, maka akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.
4. Pembelajaran Menyimak
Secara garis besar ketrampilan berbahasa manusia dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan penelitian Donald E. Bird aktivitas hidup manusia didominasi aktivitas menyimak (42%), sementara aktivitas berbicara (25%), aktivitas membaca (15%), aktivitas menulis (18%). Realitas tersebut hampir sama keadaannya dengan di Indonesia (Tarigan, 1990:48). Karena itulah, kurikulum 2004 dan 2006 menitikberatkan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia pada empat ketrampilan berbahasa tersebut.
Menurut Henry Guntur Tarigan, ada beberapa teknik pembelajaran menyimak, yaitu :
(a) dengar-ulang ucap,
(b) dengar tulis (dikte),
(c) dengar kerjakan,
(d) dengar terka,
(e) memperluas kalimat,
(f) menemukan benda,
(g) seseorang bilang,
(h) bisik berantai,
(i) menyelesaikan cerita,
(j) identifikasi kata kunci,
(k) identifikasi kalimat topik,
(l) menyingkat / merangkum,
m) parafrase, dan
(n) menjawab pertanyaan.
Dalam menyimak, ada empat ketrampilan khusus yang dituntut, yaitu:
a. penyimak harus melibatkan diri secara total.
b. penyimak harus menguasai seni mencatat dengan tepat
c. penyimak harus mencari dan menganalisis sarana penunjang
d. penyimak harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan
(Tarigan, 1994 : 87-89).
B. Kerangka Berpikir dan Pengajuan Hipotesis
1. Kerangka Berpikir
Kondisi awal :
Sebelum siswa mengikuti pembelajaran perkalian lanjut dengan media presentasi pembelajaran, motivasi belajar dan hasil belajar menyimak rendah karena tidak menguasai konsep dan pembelajaran menyimak. Hal tersebut merupakan hal yang harus dihindari.
Tindakan :
Menerapkan media presentasi pembelajaran dalam setiap pembelajaranBahasa Indonesia, khususnya menyimak dengan media presentasi pembelajaran yang disiapkan guru .
Kondisi Akhir :
Setelah diterapkannya pembelajaran dengan media presentasi pembelajaran, siswa lebih tertarik terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya menyimak, motivasi dan hasil belajar menyimak meningkat.



Hal tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:

Pembelajaran kurang menarik,
Motivasi belajar bahasa Indonesia rendah
Hasil belajar menyimak rendah


Menggunakan Media Presentasi Pembelajaran


Pembelajaran menyenangkan,
Motivasi siswa tinggi,
Hasil belajar menyimak meningkat
2. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan semua uraian di atas dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut :
1. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal“, siswa kelas V menilainya layak sebagai media pembelajaran.
2. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal“ dapat memotivasi siswa kelas V
3. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas V



BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini mengikuti suatu daur (siklus) yang di dalamnya terdapat kegiatan merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan, dan melaksanakan refleksi pada seluruh tindakan sebelumnya.
Pendekatan yang ditempuh dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang diterapkan dalam metode PTK. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Dalam pelaksanaannya peneliti bertugas mengobservasi, mencatat, dan merekam segala aktivitas dan siswa dalam proses pembelajaran.

B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini di SDN TEMPEL dengan alamat Gunungsari, Tempel, Kecamatan Gatak. Waktu penelitian telah dilakukan sejak 5–10 Februari 2009. Pengambilan data dilakukan selama 2 siklus pembelajaran, setiap siklus terdiri atas sekali tatap muka. Untuk validasi instrumen penelitian diperlukan sekali tatap muka pada kelas V.

C. Subjek Penelitian dan Pembatasan Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa SDN Tempel kelas V. Kelas V ada 1 kelas. Terdiri dari 20 siswa. Komposisi kecerdasan siswa relatif sama, karena belum dibedakan berdasarkan prestasi mereka. Karena itu peneliti mengambilnya secara keseluruhan.

D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus memiliki 4 tahap, yaitu :
(1). Perencanaan tindakan (planning);
(2). Pelaksanaan Tindakan (action);
(3). Observasi (observation); dan
(4). Refleksi (reflection).

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Lembar Pengamatan untuk Siswa dan Guru
Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati siswa dalam proses pembelajaran hingga evaluasi. Aspek-aspek yang dinilai adalah aktivitas keterlibatan siswa hingga evaluasi.
2. Tes Tanggapan Siswa Terhadap Media
Tes tanggapan siswa terhadap media pembelajaran ini digunakan untuk meneliti seberapa tinggi kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal “ sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini digunakan skala Likert.
3. Tes Motivasi Siswa
Tes motivasi siswa ini digunakan untuk meneliti siswa terkait dengan motivasi dan perhatian siswa terhapap proses pembelajaran. Dalam hal ini pun digunakan skala Likert.
4. Tes Kemampuan Menyimak
Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyimak, siswa diberikan evaluasi terhadap kemampuan mereka dalam menulis ide-ide pokok dari wacana berita televisi yang telah disimak.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan meliputi kegiatan klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Kegiatan klasifikasi ini meliputi memilah-milah data yang telah dikelompokkan sesuai dengan jenis datanya.
Data yang diperoleh dari pengamatan dan angket dilakukan analisis deskriptif melalui : 1) reduksi data, 2) pemaparan data, dan 3) penyimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan konseptualisasi melalui seleksi, pemfokusan, dan abstraksi data mentah sehingga menjadi informasi yang bermakna. Paparan data dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk paparan naratif maupun statistik. Adapun penyimpulan adalah proses mengambil intisari dalam bentuk pernyataan kalimat.
1. Analisis Kelayakan Media
Evaluasi kelayakan media perlu dilakukan terhadap MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal”. Hal ini karena media pembelajaran tersebut baru dibuat peneliti, karena itu perlu diujicobakan sekaligus diuji kelayakannya. Kriteria kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” dinilai pada aspek : kesesuaiannya dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, dengan materinya, tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi komunikabilitas.
Untuk mengetahui skor kelayakan media ini dilakukan dengan cara:
a. mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara :
1). pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5
2). pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4
3). pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3
4). pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2
5). pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1
b. menghitung tingkat kelayakan media pembelajaran
Tingkat kelayakan media pembelajaran dihitung dengan rumus berikut :
Rata-rata skor = Jumlah skor kelayakan / Jumlah siswa
Adapun kriteria tingkat kelayakan media ditentukan sebagai berikut :
Tingkat Kelayakan Media
Rata-rata Skor
Sangat Tinggi 21 – 25
Tinggi 16 – 20
Sedang 11 – 15
Rendah 6 – 10
Sangat Rendah 0 – 5

2. Analisis Aspek Motivasi Siswa
Motivasi siswa diidentifikasikan pada saat berlangsungnya pembelajaran yang terdiri atas besarnya motivasi khususnya perhatian mereka dalam memperhatikan pembelajaran tanpa melalaikannya. Hal ini dapat dilihat dari tes tentang motivasi mereka.
Untuk mengetahui skor motivasi dan tingkat motivasi siswa dilakukan dengan cara:
a. mengangkakan (kuantifikasi) motivasi siswa dengan cara :
1). pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5
2). pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4
3). pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3
4). pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2
5). pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1
b. menghitung tingkat motivasi siswa
Tingkat motivasi siswa dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Rata-rata skor = Jumlah skor motivasi siswa/ Jumlah siswa
Adapun kriteria tingkat motivasi siswa ditentukan sebagai berikut :
Tingkat Motivasi Belajar Siswa
Rata-rata Skor
Sangat tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat rendah 21 – 25
16 – 20
11 - 15
6 - 10
0 - 5


3. Analisis Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Hasil kemampuan menyimak siswa diidentifikasikan pada saat akhir proses pembelajaran yaitu saat evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini dilakukan tes performansi, yaitu praktik menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi. Adapun unsur-unsur yang dinilai adalah : (a) sistematika ide pokok, (b) kelengkapan ide pokok, (c) kerapian penulisan, (d) tidak ada ide lain yang menyimpang, dan (5) banyaknya karangan.
Skor maksimal per siswa adalah 100. Adapun penentuan skornya digunakan kriteria sebagai berikut.

SKOR Taraf Kemampuan Ketentuan
81 – 100 Sangat Baik 5 unsur terpenuhi
61 – 80 Baik 4 unsur terpenuhi
41 – 60 Cukup 3 unsur terpenuhi
21 – 40 Kurang Baik 2 unsur terpenuhi
0 - 20 Buruk 1 unsur terpenuhi
Hasil akhirnya akan dianalisis dan diinterpretasikan dengan membandingkan skor maupun perlakukan terhadap siklus 1 dan siklus 2 beserta latar belakang penyebabnya.



BAB IV
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

A. Deskripsi Data
Secara operasional penelitian telah dilaksanakan sebagai berikut:
Observasi Awal ( 5 Februari 2009)
Observasi awal dilakukan peneliti pada kelas V, jam 1-2 . Peneliti melakukannya tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran. Hal ini cukup dilakukan di dalam kelas.
Tindakan yang dilakukan peneliti adalah : a. bertanya jawab bagaimanakah langkah-langkah yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesianya pada saat pembelajaran dengan wacana berita televis; b. memberikan apersepsi tentang wacana berita televisi seputar fenomena dukun cilik Ponari; c. menugasi siswa menuliskan ide-ide pokok berita seputar fenomena dukun cilik Ponari dengan batasan topik : (1). dampak fenomena dukun cilik Ponari: (2). bagaimana latar belakang kehidupan calon pasien Ponari; (3). upaya penanggulangannya oleh aparat pemerintah; dan (4). dialog-dialog yang pernah dilihatnya di televisi. d. mengumpulkan dan menilai hasil karangan siswa.

Refleksi Awal
Hasil yang diperoleh dari observasi awal dan evaluasi terhadap objek kelas V sebagai berikut:
1. Menurut para siswa, karena tidak ada medianya guru sering menghindar saat membahas materi wacana yang berasal dari berita televisi. Sementara itu menurut guru yang bersangkutan, pembelajaran dilakukan dengan menugasi siswa menyimak wacana berita televisi dari rumah masing-masing, menuliskannya, dan melaporkannya di kelas.
2. Pada saat ditugasi oleh peneliti untuk menuliskan ide-ide pokok wacana berita yang telah disimak dari televisi yang pernah didengar dan dilihatnya di rumah, terjadi kasus-kasus berikut :
a. beberapa siswa mengaku belum pernah melihat dari berita dari televisi,
b. beberapa siswa mengaku pernah melihat dari berita dari televisi namun kurang perduli
c. ada yang pernah melihat berita televisi tentang fenomena dukun cilik Ponari, namun telah lupa ide-ide pokoknya,
d. beberapa siswa masih memikir-mikir dulu saat mau menulis. Kelihatan mereka bingung terhadap topik yang akan ditulisnya. Setelah beberapa menit kemudian baru mereka menuliskannya.
3. Hasil tulisan siswa menunjukkan :
a. topik yang dibahas melebar karena referensi yang berbeda
b. karangan siswa tidak sistematis ide-ide pokok yang diungkapkannya berbeda antara setiap siswa
c. banyak di antaranya menulis bukan dari menyimak berita televisi terbukti tidak mampu menyebutkan sumber televisi penyampai berita tersebut, melainkan dari pengalamannya mendengar cerita tentang Ponari.
d. topik yang dibahas terlalu banyak (4 topik) sehingga waktu tidak cukup. Banyak di antara siswa tidak mampu menyelesaikan topik yang keempat.
Rencana Tindakan 1
1. Membuat media presentasi pembelajaran “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal”, dan mengemasnya dalam compact disk (CD)
2. Agar waktu yang disediakan cukup yaitu hanya 2 x 35 menit, maka diatur waktunya sebagai berikut :
a. pengantar : 5 menit
b. penjelasan awal : 5 menit
c. presentasi media pembelajaran : 30 menit
d. siswa menuliskan ide-ide pokok berita : 25
e penutup : 5 menit
3. Karena menggunakan media presentasi pembelajaran maka diselenggarakan di ruang multimedia (moving class).
4. Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru
5. Membuat instrumen penelitian berupa angket untuk mengetahui tingkat motivasi siswa dan kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal”
Pelaksanaan Tindakan 1 (Siklus 1) (Senin, 9 Februari 2009)
Dalam siklus 1, tindakan yang dilakukan peneliti adalah :
1. Melakukan penelitian pada kelas V kebetulan saat itu jam 5-6 pengajarnya tidak ada / kosong)
2. Para siswa diajak menuju ruang multimedia, berikut disuruh membawa alat tulis.
3. Peneliti memberikan pengantar dan penjelasan materi selama 10 menit.
4. Peneliti memutar dan menayangkan MPP” Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” pada layar selama 30 menit secara terus-menerus.
5. Setelah selesai penayangan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” tersebut, peneliti menugasi siswa selama 25 menit menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi dengan urutan topik : dampak pengobatan Ponari, latar belakang kehidupan calon pasien Ponari, dan upaya penanggulangannya oleh aparat pemerintah.
6. Peneliti mengumpulkan hasil tulisan siswa dan menutup pertemuan tersebut.
Observasi 1
1. Siswa antusias sekali saat menyimak tayangan media presentasi pembelajaran. Beberapa di antara siswi mengaku sedih bahkan ada yang menitikkan air mata, khususnya ketika tayangan intro disampaikan.
2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan. Peneliti membiarkan dan tidak melarangnya.
3. Pada saat ditugasi menulis hasil simakannya, beberapa siswa menunjukkan kebingungannya karena harus mengingat-ingat apa yang telah disimak sebelumnya.

Refleksi 1
1. Siswa terlihat antusias dan bahkan ada yang terbawa perasaannya saat melihat tayangan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” karena sesuai dengan konteks siswa dan menimbulkan kesan mendalam pada pemahaman dan perasaan mereka.
2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil menunjukkan siswa masih berusaha memerlukan bantuan ingatan saat akan menuliskannya nanti.
3. Beberapa kejanggalan dalam media perlu disempurnakan.
Rencana Tindakan 2
1. Diperlukan tayangan intro relatif lebih lama untuk membawa suasana hati siswa kondusif terhadap situasi sosial di sekeliling Ponari yang memang menyedihkan.
2. Agar siswa tidak mengalami kesulitan mengingat apa yang telah disimaknya, peneliti akan menayangkannya secara bertahap sebagai berikut:
a. Tahap 1 :
- penyampaian topik dampak pengobatan alternatif ala Ponari selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
b. Tahap 2 :
- penyampaian topik latar belakang kehidupan calon pasien Ponari selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
c. Tahap 3 :
- penyampaian topik upaya penanggulangan oleh aparat pemerintah selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
3. Siswa akan disarankan membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat siswa.

Pelaksanaan Tindakan 2 (Siklus 2)
Dalam melakukan penelitian pada siklus 2 ini, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Penelitian dilakukan pada kelas V pada hari Selasa, 10 Februari 2009 Jam ke-5-6 dengan minta ijin guru yang bersangkutan, dan para siswa diajak ke ruang multimedia.
2. Peneliti memberikan pengantar materi.
3. Peneliti menayangkan media presentasi pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap yang direncanakan, yaitu :
a. Tahap 1 :
- penyampaian topik dampak pengobatan Ponari selama 10 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
b. Tahap 2 :
- penyampaian topik latar belakang kehidupan calon pasien Ponari selama 10 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
c. Tahap 3 :
- penyampaian topik upaya penanggulangan oleh aparat pemerintah selama 10 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit

4. Peneliti mempersilakan para siswa membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat.
5. Peneliti mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, dan menutup pertemuan tersebut.
Observasi 2
1. Siswa kelas V pada pertemuan kedua ini juga sangat antusias dalam menyimak tayangan media presentasi pembelajaran “ Dukun Cilik Ponari sang Fenomenal”. Sebagaimana pertemuan terdahulu, para siswa kelas ini mengaku sedih sekali khususnya tayangan intro.
2. Pada saat menyimak, siswa membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan sebagaimana peneliti telah perintahkan.
3. Pada saat menuliskan ide-ide pokok rekaman berita, para siswa langsung menuliskannya tanpa berpikir panjang, mengacu catatan kecil yang dibuatnya.
4. Waktu pelaksanaan hingga akhir molor 10 menit, menunggu seluruh tulisan siswa selesai.
Refleksi 2 (Akhir)
1. Secara umum siswa tertarik dan antusias dalam menyimak MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal”. Bahkan intro-nya mampu membawa penyimaknya dalam suasana sedih, khususnya para siswa wanita.
2. Penyampaian materi secara bertahap dibantu siswa membuat cacatan kecil sangat membantu siswa dalam menyimak ide-ide pokok wacana berita televisi kemudian langsung menuliskannya.
3. Secara umum, siswa melihat desain media pembelajaran sudah sangat bagus dan mereka menyatakan layak sebagai media pembelajaran, meskipun menurut amatan penulis masih perlu disempurnakan.

B. Analisis Data
1. Data Aktivitas Guru dan Siswa
Data aktivitas guru diperoleh melalui observasi partisipan oleh peneliti sendiri sesuai instrumen 01. Adapun data aktivitas siswa diperoleh melalui observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti sesuai instrumen 02.
Adapun data hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran sebagai berikut.
Tabel .1
Data Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran

Aktivitas
Siklus 1
Frekuensi / % Siklus 2
Frekuensi / %
a. Membuka pelajaran 1 x (1,85%) 1 x (1,56%)
b. Memberikan apersepsi 1 x (1,85%) 1 x (1,56%)
c. Memberikan petunjuk 1 x (1,85%) 1x (1,56%)
d. Memutar MPP 10 x (18,51%) 10 x (15,62%)
.e. Pause MPP 6 x (11,11%) 6 x (9,37)%)
f. Menugasi siswa menyimak 10 x (18,51%) 10 x (16,62%)
g. Menugasi siswa membuat catatan - 10 x (16,62%)
h. Menugasi siswa menulis 6 x (11,11%) 6 x (9,37)%)
i. Mengamati siswa 18 x (33,32%) 18 x (28,12%)
j. Menutup pelajaran 1 x (1,85%) 1 x (1,56%)

Tabel 2.Data Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran
Aktivitas Siklus 1, % siswa Siklus 2, % siswa
a. Memperhatikan penjelasan guru (100%) (100%)
b. Menyimak MPP (100%) (100%)
c. Membaca buku (0%) (0%)
d. Membuat catatan sendiri terkait materi menyimak (45%) (95%)
e. Menulis sesuai perintah guru (100%) (100%)
f. Bertanya jawab relevan sesuai dengan materi pelajaran (0%) (0%)
g. Menyampaikan ide / pendapat (0%) (0%)
h. Aktivitas tidak relevan dengan pembelajaran (10%) (0%)

Data tabel 1 dan 2 di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok yang telah dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran siklus 1 dan siklus 2. Secara umum tindakan yang dilakukan oleh guru tidak ada hambatan. Demikian pula semua siswa (100%) terlibat sangat aktif dalam pembelajaran menyimak MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal”.
Tidak ada aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, misalnya bolos keluar, tidur, menggambar, menulis-nulis atau membaca materi pelajaran lainnya, mengobrol sendiri, dan sejenisnya. Hanya ada 2 siswa (10%) pada siklus 1 yaitu kelas V yang terpaksa harus keluar kelas sebentar pada 5 menit pertama pembelajaran karena menuju kamar kecil.
Adapun perbedaannya, pada siklus 1 ada 9 siswa (45%) yang aktif membuat catatan kecil saat menyimak. Padahal guru tidak menganjurkannya apalagi memerintahnya. Guru pun tidak melarang aktivitas ini.
Namun melihat efektifitasnya, maka pada siklus 2 guru mengajurkan siswa untuk membuat catatan kecil untuk membantu mengingat saat menyimak yang kemudian menuliskan ide-ide pokok dalam rekaman wacana berita televisi.
Akhirnya pada siklus 2 sejumlah 19 siswa (95%) membuat catatan kecil saat menyimak.
2. Data Hasil Tanggapan Kelayakan Media Pembelajaran
Penelitian ini tidak bisa dilepaskan dari tes kelayakan media pembelajaran. Hal ini karena penelitian ini menggunakan media pembelajaran buatan peneliti sendiri yang belum pernah diujicobakan. Perlu diketahui kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” ini. Dalam hal ini digunakan tes tanggapan yang menggunakan instrumen 03.
Adapun data hasil tes tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” sebagai media pembelajaran sebagai berikut.
Tabel 3. Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” Sebagai Media Pembelajaran
NO. NAMA SISWA SIKLUS 1 SKOR SIKLUS 2 SKOR
1. Wulandari 19 19
2. Alip Fajar Setyo Wibowo 21 22
3. Ambar Sulistyaningrum 19 25
4. Anggun Wisnu Saputri 20 24
5. Satria Ayu Ekawati Putri 19 26
6. Bagas Edi Saputro 18 20
7. Dita Nur Oktaviana 20 20
8. Dwi Nurhayati 19 22
9. Ersi Larasati 25 25
10. Erwan Afriyanto 20 20
11. Farah Aulia Faradilla 16 20
12. Hellen Al Fawziyah 21 25
13. Irfan Dicky P.R 20 24
14. Kurniawati 24 25
15. Muhammad Ghani Al Majid 17 24
16. Nur Aji Bagaskoro 14 24
17. Rika Ismi Kasana 20 22
18. Saraswati Laksmi Chandra Guphita 16 20
19. Ulfa Riyanti 16 20
20. Rivan Adi Permana 17 20
Rata-rata 19,05 22,35

Tabel 3 menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” pada Siklus 1 rata-rata skornya 19,05. Sementara itu dalam Siklus 2 menunjukkan bahwa tanggapan terhadap kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” rata-rata skornya 22,35. Berdasarkan atas kriteria kelayakan media pembelajaran di atas MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” tergolong tinggi. Artinya, MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” memiliki kelayakan yang tinggi sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia.

3. Data Hasil Tes Motivasi Belajar
Tes terhadap motivasi belajar siswa terdapat pada instrumen 04. Pada siklus 1 tes motivasi belajar diberikan kepada kelas V, dan pada siklus 2 tes motivasi diberikan kepada kelas yang sama.
Adapun data hasil tanggapan kelayakan media pembelajaran sebagai berikut:

Tabel 4. Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa
NO. NAMA SISWA SIKLUS 1 SKOR SIKLUS 2 SKOR
1. Wulandari 10 12
2. Alip Fajar Setyo Wibowo 13 15
3. Ambar Sulistyaningrum 15 25
4. Anggun Wisnu Saputri 12 15
5. Satria Ayu Ekawati Putri 13 20
6. Bagas Edi Saputro 14 17
7. Dita Nur Oktaviana 16 20
8. Dwi Nurhayati 14 20
9. Ersi Larasati 25 25
10. Erwan Afriyanto 20 25
11. Farah Aulia Faradilla 20 25
12. Hellen Al Fawziyah 13 24
13. Irfan Dicky P.R 12 17
14. Kurniawati 25 25
15. Muhammad Ghani Al Majid 12 21
16. Nur Aji Bagaskoro 12 20
17. Rika Ismi Kasana 11 20
18. Saraswati Laksmi Chandra Guphita 23 25
19. Ulfa Riyanti 15 20
20. Rivan Adi Permana 14 20
Rata-rata 15,45 20,55

Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas V rata-rata skornya 15,45. Sementara itu dalam Siklus 2 menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas V meningkat, sehingga rata-rata skornya 20,55.
Jadi, berdasarkan atas kriteria motivasi belajar di atas, maka motivasi belajar tergolong tinggi. Artinya, siswa kelas V memiliki motivasi yang tinggi dalam pembelajaran menyimak yang menggunakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal”.

4. Data Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Penelitian terhadap kemampuan menyimak siswa, dilakukan segera setelah menayangkan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal”. Pada siklus 1 dan Siklus 2 dilakukan tes kemampuan menyimak pada kelas V .
Hasil kemampuan menyimak siswa dituliskan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 5. Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak
NO. NAMA SISWA SIKLUS 1 SKOR SIKLUS 2 SKOR
1. Wulandari 30 35
2. Alip Fajar Setyo Wibowo 42 60
3. Ambar Sulistyaningrum 50 75
4. Anggun Wisnu Saputri 42 60
5. Satria Ayu Ekawati Putri 55 63
6. Bagas Edi Saputro 52 65
7. Dita Nur Oktaviana 68 75
8. Dwi Nurhayati 60 70
9. Ersi Larasati 82 90
10. Erwan Afriyanto 62 72
11. Farah Aulia Faradilla 70 82
12. Hellen Al Fawziyah 60 70
13. Irfan Dicky P.R 61 70
14. Kurniawati 80 90
15. Muhammad Ghani Al Majid 60 76
16. Nur Aji Bagaskoro 72 80
17. Rika Ismi Kasana 46 68
18. Saraswati Laksmi Chandra Guphita 75 90
19. Ulfa Riyanti 56 70
20. Rivan Adi Permana 46 64
Rata-rata 58,45 71,25
Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas V pada siklus 1 rata-rata skornya 58,45. Sementara itu dalam Siklus 2 menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa meningkat menjadi rata-rata 71,25. Berdasarkan atas kriteria kemampuan menyimak di atas maka kemampuan menyimak siswa kelas V pada siklus 1 tergolong cukup, adapun kemampuan menyimak siswa kelas V pada siklus 2 tergolong baik.
Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan menyimak siswa, disamping peningkatan kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal”. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari perbedaan perlakuan yang semakin disempurnakan (pada siklus 2) dari perlakuan sebelumnya (pada siklus 1). Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut:
Aspek Aktivitas Guru
SIKLUS 1 SIKLUS 2 KETERANGAN
membuka pembelajaran membuka pembelajaran - aktivitas sama

memberikan penjelasan Awal memberikan penjelasan Awal - aktivitas sama

menugasi menyimak terus menerus (45 menit)
menugasi menulis 3 topik sekaligus (30 menit) menugasi menyimak pertopik (15 menit) kemudian menulis (10 menit)
perbaikan cara
tidak menghimbau siswa membuat catatan kecil
menghimbau siswamembuat catatan kecil
perbaikan cara
- melakukan observasi
- menutup pelajaran - melakukan observasi
- menutup pelajaran - aktivitas sama

Aspek Aktivitas Siswa
SIKLUS 1 SIKLUS 2 KETERANGAN
menerima penjelasan Awal menerima penjelasan Awal - aktivitas sama

- menyimak terus menerus (30 menit)
- menulis 3 topik sekaligus (25 menit) hasil simakan
- sebagian kecil siswa (45%) membuat catatan kecil menyimak bertahap (10 menit menyimak dan 10 menit menuliskannya) hingga 3 tahap
- sebagian besar siswa (95%) membuat catatan kecil
perbaikan cara

Kelayakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal”
Siklus 1: Skor rata-rata 19,05. Siklus 2: Skor rata-rata 22,35 . Peningkatan skor rata-rata 3,30.
Motivasi Siswa
Siklus 1: Skor rata-rata 15,45. Siklus 2: Skor rata-rata 20,55. Peningkatan skor
rata-rata 5,05
Kemampuan Menyimak
Siklus 1: Skor rata-rata 58,45. Siklus 2: Skor rata-rata 71,25. Peningkatan Skor rata-rata 12,80


C. Interpretasi
Berdasarkan rangkaian penelitian hingga analisis data dapat diketahui bahwa :
(1) MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” dinilai tinggi kelayakannya sebagai media pembelajaran.
MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” ini dinilai layak berdasarkan hal-hal berikut :
a. Materi MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” sudah sesuai dengan silabus Kurikulum 2006 (KTSP)
b. Desain gambar, warna, tulisan, maupun komposisi suara dan filmnya sudah baik
c. MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” mudah digunakan atau dipakai dalam pembelajaran
d. Navigasi menu-menu dan tombol dalam MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” sudah jelas dan tidak
membingungkan
e. MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” sudah komunikatif artinya mudah dipahami para siswa.
Bertolak hal tersebut berarti hipotesis tindakan 1 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ dukun cilik Ponari sang fenomenal“, siswa kelas V SD Negeri Tempel menilainya layak sebagai media pembelajaran.
(2) Berdasarkan analisis terhadap motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi. Bahkan dalam observasi terhadap aktivitas pembelajaran semua siswa (100%) terlibat aktivitas aktif dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan hipotesis tindakan 2 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ dukun cilik Ponari sang fenomenal“ dapat memotivasi siswa kelas V SD Negeri Tempel
(3) Berdasarkan analisis terhadap kemampuan menyimak menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yaitu rata-rata skornya 58,45 (tingkatan cukup) pada siklus 1 meningkat menjadi rata-rata skor 71,25 (tingkatan baik). Terjadi peningkatan skor rata-rata 12,80. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perbaikan dan peningkatan perlakuan dari siklus pembelajaran sebelumnya, melalui perbaikan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” serta memberikan kesempatan kepada para siswa untuk membuat catatan kecil pada saat proses menyimak. Hal ini dapat membantu mengingat siswa terhadap materi yang disimaknya.
Berdasarkan hal itu maka hipotesis tindakan 3 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “ Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas V SD Negeri Tempel










BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Dari seluruh rangkaian penelitian sebelumnya akhirnya dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.
1. Siswa kelas V SD Negeri Tempel menilai kelayakan tinggi terhadap MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” sebagai media membelajaran bahasa Indonesia.
2. Siswa kelas V SD Negeri Tempel memiliki motivasi tinggi pada saat pembelajaran bahasa Indonesia dengan topik menyimak rekaman berita televisi dengan menggunakan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” sebagai media membelajaran.
3. Penerapkan MPP “Dukun Cilik Ponari Sang Fenomenal” dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas V SD Negeri Tempel

B. Saran
Disamping mampu membentuk kompetensi siswa, pembelajaran memperhatikan hal-hal berikut:
1. Guru harus mengusahakan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar
2. Media pembelajaran disamping sesuai dengan topik pembelajaran perlu pula dinilai kelayakannya
3. Pada era ICT (Information Computer & Technology) banyak media pembelajaran dapat dihasilkan dengan bantuan komputer. Karena itu para guru perlu belajar dan menguasai teknologi pembelajaran berbasis komputer ini.




DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi
Aksara

Chandra. 2005. Menu Interaktif Flah MX 2004. Palembang : Maxiikom.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Fathoni, A.R. 1993. Pengembangan Komputer Pembelajaran (Unit II CIA).
Surabaya University Press IKIP Surabaya

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Kurniawan, Yahya. 2006. Belajar Sendiri Macromedia Flash 8. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktik : Penelitian Tindakan. Bandung : Alfabeta.

Mudhoffir. 2001. Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung
PT Remaja Rosdakarya

Mukminan. 2001. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press.

Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional. Jakarta : Erlangga.

Pramono, Andi. 2001. Presentasi Multimedia dengan Macromedia Flash 8.
Yogyakarta. CV Andi Offset

Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta. Depdikbud.

Sardiman, Arief S. dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada

Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC.

Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa.
Bandung. Angkasa

———————. 1990. Teknik Pengajaran Ketrampilan Menyimak.
Bandung. Angkasa.


———————. 1994. Menyimak : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung. Angkasa

Uno, Hamzah B.. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi
Aksara

Wiriatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung
PT Remaja Rosdakarya








































PENGGUNAAN MEDIA PRESENTASI PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA DUKUN CILIK PONARI SANG FENOMENAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MENYIMAK SISWA KELAS V SD NEGERI TEMPEL
(PENELITIAN TINDAKAN KELAS)










Oleh :

NAMA : DAIMATU ROKHMAH, S.Pd
NIP : 19601117 197911 2 002
SEKOLAH : SD NEGERI TEMPEL
KECAMATAN : GATAK
KABUPATEN : SUKOHARJO
PROVINSI : JAWA TENGAH





Lampiran 1: Instrumen 01
Lembar Pengamatan untuk Guru
Nama : ……………………………………..
NIP : ……………………………………..
Aspek yang diamati :
Aspek yang diamati Hasil Pengamatan Keterangan
a. Membuka pelajaran
b. Memberikan apersepsi
c. Memberikan petunjuk
d. Menjelaskan penggunaan media
.e. Jeda
f. Menugasi siswa latihan soal
g. Menugasi siswa praktik media
h. Menugasi siswa mengerjakan soal perkalian
i. Mengamati siswa
j. Menutup pelajaran













Lampiran 2 : Instrumen 02
Lembar Pengamatan Untuk Siswa
Nama Siswa : …………………………………
NO. Nama Siswa
1 Aspek yang diamati Hasil Pengamatn
2 3 4 5 6 7 8








Keterangan :
1. Memperhatikan penjelasan guru
2. Mencoba menggunakan media
3. Praktik menghitung dengan media
4. Membuat catatan sendiri terkait dengan materi
5. Mengerjakan soal latihan sesuai perintah guru
6. Bertanyajawab relevan/sesuai dengan materi pelajaran
7. Menyampaikan ide/pendapat
8. Aktivitas tidak relevan dengan pembelajaran



Lampiran 3 : Instrumen 03
Kelayakan Media Batang Naphier
Nama Siswa : …………………………………………….
Bagaimanakah tanggapanmu mengenai hal-hal berikut ini :
NO. Kelayakan MPP SS S N TS STS
1. Media Batang Naphier untuk pembelajaran sesuai dengan materi pelajaran kelas IV
2. Tujuan pembelajarannya jelas
3. Sangat menarik penyajiannya.
4. Mudah dipahami / komunikatif
5. Mudah digunakan dan dibuat










Lampiran 4 : Instrumen 04
Motivasi Siswa
Nama Siswa : …………………………………
NO. Motivasi Siswa SS S N TS STS
1. Memperhatikan dengan serius saat praktik menggunakan media
2. Tidak melakukan aktifitas yang mengganggu saat pembelajaran dengan menggunakan media.
3. Membuat catatan kecil tentang cara menggunakan media
4. Bertanyajawab relevan dengan materi dan penggunaan media
5. Sangat senang dengan praktik menggunakan media

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar